Kamis, 11 Februari 2010

Sekali lagi tentang Nasi Aking*

Siang tadi saat istirahat kantor, saya menyempatkan diri ke toko buku di salah satu departemen store di Kota Serang. Karena jaraknya yang cukup dekat, saya memutuskan berjalan kaki saja… sampai tiba-tiba saya tertegun melihat seorang nenek paruh baya yang sedang menjemur nasi aking di trotoar jalan protokol seberang Bank Jabar-Banten. Hari gini masih makan nasi aking..? tidak ada yang salah memang, hanya saja ada yang mengganjal di hati ini.

Saya jadi teringat, kisah setahun lalu saat kampanye pilpres…. Salah seorang kandidat sampai membela-belakan diri datang ke Banten untuk sekedar lesehan dan makan nasi aking bersama warga Kota Serang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Anehnya saat itu banyak yang kebakaran jenggot…. (padahal saya tau mereka-mereka itu kebanyakan nggak punya jenggot.. hihihi). Mulai dari birokrat, pejabat, sampai para rival politik. Dan lucunya beberapa statement para pejabat mengatakan bahwa nasi aking adalah budaya masyarakat Banten… jadi katanya tidak ada yang perlu dirisaukan… hahahaha. Namun demikian, beberapa kepala daerah sampai marah-marah terhadap rekan wartawan televisi yang menayangkan gambar warganya sedang makan nasi aking…. Sampai-sampai rekan wartawan tersebut harus tiarap dulu…. Huff. Kalau memang nasi aking adalah budaya kita, harusnya dalam setiap jamuan makan saat menyambut tamu di pendopo harus ada menu nasi aking dan juga nasi aking di sajikan serta diperjual belikan di restoran dan rumah makan ternama…..??? cabe deh….

Dalam perjalanan ke toko buku, pikiran saya selalu terbayang nasi aking dan korelasinya dengan budaya dan daya beli masyarakat terhadap beras. Ya, Beras… karena beras selaku bahan baku nasi selalu jadi komoditas politik dan komoditas pembicaraan masyarakat kita. Tadi saya sempat berbincang dengan nenek tersebut, dan sedikit menanyakan perihal kenapa beliau mengkonsumsi nasi aking. Jawabannya sederhana…. sesederhana ketika ia mengatakan, “kalau ada uang mah lebih baik makan nasi biasa…”

Saya membayangkan wajah birokrat yang mengatakan di media massa kalau nasi aking adalah bagian dari budaya masyarakat. Saya sangat setuju, karena memang pengkonsumsian nasi aking adalah budaya kepepet masyarakat, yang mana lebih baik masih makan nasi aking daripada yang mana tidak makan sama sekali….

Politik beras kita selalu menyengsarakan rakyat. Saat musim tanam, harga pupuk dan pestisida membumbung tinggi (bahkan lebih sering hilang dari pasaran)… dan saat musim panen, harga gabah petani selalu dihargai rendah dan anjlok di pasaran…. Jadinya para petani selalu tekor dalam berusaha. Padahal para petani kita saat ini lebih banyak yang hanya menjadi buruh garapan saja, sebab tanah persawahan di pedesaan sudah lebih banyak dikuasai oleh tuan tanah di kota.

Musim pilkada saat ini (Kab. Serang, Kota Cilegon, Kab. Pandeglang serta Kota Tangerang Selatan sebentar lagi mau nyari pimpinannya) adalah musim ‘panen’ bagi masyarakat biasa. Para pemimpin dan kandidat jadi lebih sering turun ke kampung dan pedesaan. Saatnya mendapat baju baru (walaupun bergambar orang yang terkadang tidak dikenalnya), saatnya mendapat bingkisan dan amplop beserta isinya (padahal bukan lebaran), musimnya perang ayat antar para ustadz dan kyai (padahal bukan kontes MTQ), dan musim panen beneran bagi insan pers (maklum iklan pilkada sangat menjanjikan).

Namun kisah nasi aking, kisah penderita gizi buruk, dan kisah marjinal masyarakat kita lainnya seperti kisah seribu satu malam yang selalu jadi tontonan dan cerita tiada henti tanpa pernah ada keseriusan untuk menanggulanginya, bahkan kalau bisa nantinya dijadikan proyek penanggulangan kemiskinan… hihihi.


*) Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas. Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengkonsumsi nasi aking. Nasi aking bukanlah makanan yang layak dikonsumsi manusia; berwarna coklat dan dipenuhi jamur. Namun, masyarakat kelas bawah menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti nasi karena tak mampu membeli beras. Untuk menghilangkan bau, nasi aking terlebih dahulu dipisahkan dari kotoran, dicuci, dijemur, lalu diberi kunyit untuk mengurangi rasa asam akibat jamur yang tertinggal (wikipedia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar