Jumat, 05 Maret 2010

Pariwisata Banten; Hidup Segan Matipun Malu….


Sore tadi tadi saya mendapat kiriman foto yang di tag oleh sahabat saya Ena Hayati ‘wartawati’ di Humas Pemprov Banten. Foto ini sebenarnya adalah foto beberapa minggu lalu ketika kami bersama-sama mendampingi pak Wakil Guberur berkeliling lokasi wisata di Banten bersama seluruh stake holder pariwisata, mulai dari ASITA, PHRI, Instansi terkait dan beberapa wartawan lokal.

Foto ini membuka kembali memori saya saat itu. Bagaimana tidak, beberapa lokasi dan objek wisata yang kami kunjungi sungguh sangat membuat ‘adrenalin’ naik-turun. Objek pertama yang kami kunjungi adalah Istana Kaibon di Kasemen yang merupakan istana persembahan sultan Banten kepada ibundanya… karena itu istana ini dinamakan ‘Kaibon’ asal kata dari ke-ibuan. Tampak sekali perawatan yang tidak memadai membuat istana ini menjadi merana dan tidak menarik dari segi kebersihan, walaupun menyimpan kisah sejarah yang sangat mungkin membuat pengunjung tertarik jika sudah mengunjungi dan mendengar kisah yang tersimpan didalamnya.

Lokasi kedua yang kami kunjungi, adalah Museum Arkeologi Banten Lama yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Agung Banten dan berdampingan dengan Istana Surosowan selaku istana Sultan Banten saat masih bertahta. Kami menyusuri lorong-lorong museum ditemani guide dan para petugas museum. Namun sekali sayang….. ketidakterawatan dan ‘lusuhnya’ museum ini terlihat sangat kontras dengan promosi yang menyebar di kalangan para traveler, terutama setelah melihat brosur dan situs web milik pemerintah Banten yang menjelaskan sejarah Banten yang tersimpan di museum ini. Hati ini menjadi miris…. sedih…. dan sekaligus kesal.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan wisata Anyer. Sepanjang perjalanan kami menikmati panorama layaknya turis… padahal cuma pendamping Wagub saja… hehehe. Namun dalam perjalanan sedikit terusik, karena kami melewati jalur jalan baru di Kota Cilegon. Ya, kami melewati jalur Lingkar Selatan yang baru diresmikan beberapa minggu lalu sebelum Pak SBY melewatinya saat akan meresmikan PLTU di Labuan. Sangat kontras sekali. Jalan raya lingkar selatan ini baru diresmikan tapi sudah hancur dibeberapa ruas jalannya… weleh-weleh…..

Setibanya di Anyer kami sempatkan mampir di Pohon Jambu Anyer…. Hehehe, tapi sayangnya belum ada atau tidak ada guide yang bisa menjelaskan secara sederhana apalagi detail cerita tentang Pohon Jambu Anyer yang katanya hanya tumbuh di Anyer, tapi sekrang sedang dikembang biakkan di beberapa daerah lain… hehehe, Jambu aneh bin ajaib…. Mercusuar yang tinggi menjulang sudah memanggil kami, karena letaknya yang diseberang pohon jambu Anyer…. langsung saja kami menyeberang.

Saya sudah beberapa kali menginjakkan kaki di Mercusuar Anyer… karena memang memiliki nilai historis yang kental dengan Krakatau dan kisah Anyer-Panarukan… namun ada yang tidak berubah dari mercusuar ini….. maaf ‘bau pesing’ disekitarnya dan juga didalam mercusuar sangat tidak nyaman… huff. Padahal view dari atas mercusuar dan lambaian daun kelapa sangat memikat hati untuk terus dan terus memanggil untuk berkunjung kembali….

Kami rehat dan berdiskusi kecil bersama Pak Wagub dan teman-teman PHRI dan ASITA di Hotel Mambruk…. Beragam topik muncul dan menjadi bahasan saat rehat. Kelapa muda dan gorengan yang disajikan oleh tuan rumah sangat memikat lidah namun mendengar cerita teman-teman hotel tentang puasa senin-kamis karena minimnya tamu yang menginap saat weekday membuat hati miris …. Apalagi pemilik modalnya ya..??? tak heran, beberapa hotel dan losmen memilih gulung tikar karena ‘digulung aspal’ yang tidak pernah mulus menuju lokasi wisata… banyak komplain yang muncul namun seperti teori ‘masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan’… jalan wisata yang menjadi wisata off road jika hari hujan… huhuy…

Makan siang, kami dijamu oleh Pondok Layung yang memiliki arena Outdoor Training Centre… masih baru memang, dan kami disajikan Nasi Bakar dan Bir Kampung… hehehe, asli dan halal katanya…. Namun jumlah tamu dan tingkat okupansinya hanya ramai dikala musim liburan dan weekend saja… sabar.. sabar… sabar… Ternyata tingkat hunian di hari biasa adalah pendemi yang sudah menjadi tradisi di kawasan Anyer-Carita. Rekan saya, Ashok Kumar selaku ketua PHRI Kab. Serang mengatakan, bagaimana mau menarik turis datang ke Anyer kalau infrastruktur tidak dibenahi….??????

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Karang Bolong…. Cihuy… cihuy… kami disambut oleh sampah yang menumpuk disudut-sudut areal parkir mobil yang terletak di seberang jalan dari pintu masuk Karang Bolong. Dan ternyata hari itu tidak ada seorangpun wisatawan yang datang… bukan karena akan datang rombongan wagub, namun menurut pengakuan Pak Soleh salah seorang pemilik warung oleh-oleh di daerah itu, kawasan ini hanya ramai di hari libur saja…. asyikkkkkk

Sore harinya kami mengunjungi Kawasan Mega Diversity di kawasan Carita. Udaranya sangat sejuk walaupun berada di tepi pantai Carita…. Rimbunnya pohon di sela-sela suara burung membuat hati damai dan tenang …. Setenang wisma yang katanya selalu sepi dari kunjungan wisatawan… kasihan… lapangan tenis yang tidak terawat, benalu yang ramai bertengger di atap wisma…. dan beragam kisah sedih yang melekat didalam kawasan ini.

Akhir perjalanan kami berkunjung ke Museum Gunung Krakatau di Lippo Carita. Dalam benak saya, mungkin ini adalah obat pelipur lara kami setelah seharian berkunjung ke wilayah yang ‘sangat tidak layak’ dikatakan obyek wisata… karena memang sangat tidak terawat. Nama besar Lippo sudah membayangi mata, pasti museum ini aka menjadi obat……. dan ternyata, Museum Krakatau ini lebih angker… betul-betul angker…. alias sudah tidak terawat. Untuk datang kesitu saja harus melewati rumput yang setinggi lutut…. dan pintunya telah di palang dengan kayu alias sudah tertutup… hiiiiii.

Akhirnya ketika mengetahui rombongan Wagub datang, salah seorang petugas membuka pintu dan terlihatlah beberapa artefak dari Banten Lama… foto dan lukisan Krakatau, Banten dan Suku Baduy yang tidak terawat… hiks… hiks. Sangat ironis… sampai ketika saya melihat-lihat artefak didalam… dan melihat anak-anak tikus yang masih berwarna merahhhhh…….ahhhhh…… saya langsung keluar…. Jujur binatang ini yang paling saya hindari…. hiiiiii

Cukup sudah…. Cukup sudah….. akhirnya perjalan ‘Sidak’ mendampingi Pak Wagub berakhir sampai disini saja…. saya hanya bisa mengelus dada…. Slogan Visit Banten yang sampai saat ini masih bertengger di pintu Tol Cikupa dengan wajah Ibu Gubernur tersenyum dan mengajak para wisatawan berkunjung ke Banten seperti ‘hambar’ dalam ingatan saya…. Billboard pariwisata Banten yang terpampang di Bandara Soekarno-Hatta seperti bertolak belakang dengan kenyataan yang ada….

Jangan dulu kita membandingkan Pariwisata Banten dengan dengan Singapura, Malaysia atau Thailand….. dengan Bali dan Bunaken saja, kita masih jauuuuuuh….. Tahun Kunjuungan Musem 2010, yang dicanangkan ASITA Banten dalam menarik wisatawan seperti menjadi blunder. Saya jadi ingat syair lagu Sheila Madjid...."Antara Anyer dan Jakarta... jalannya selalu rusaaaak"... piss ya Mbak Sheila... I Luv U Full Banten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar