Jumat, 05 Maret 2010

Pariwisata Banten; Hidup Segan Matipun Malu….


Sore tadi tadi saya mendapat kiriman foto yang di tag oleh sahabat saya Ena Hayati ‘wartawati’ di Humas Pemprov Banten. Foto ini sebenarnya adalah foto beberapa minggu lalu ketika kami bersama-sama mendampingi pak Wakil Guberur berkeliling lokasi wisata di Banten bersama seluruh stake holder pariwisata, mulai dari ASITA, PHRI, Instansi terkait dan beberapa wartawan lokal.

Foto ini membuka kembali memori saya saat itu. Bagaimana tidak, beberapa lokasi dan objek wisata yang kami kunjungi sungguh sangat membuat ‘adrenalin’ naik-turun. Objek pertama yang kami kunjungi adalah Istana Kaibon di Kasemen yang merupakan istana persembahan sultan Banten kepada ibundanya… karena itu istana ini dinamakan ‘Kaibon’ asal kata dari ke-ibuan. Tampak sekali perawatan yang tidak memadai membuat istana ini menjadi merana dan tidak menarik dari segi kebersihan, walaupun menyimpan kisah sejarah yang sangat mungkin membuat pengunjung tertarik jika sudah mengunjungi dan mendengar kisah yang tersimpan didalamnya.

Lokasi kedua yang kami kunjungi, adalah Museum Arkeologi Banten Lama yang letaknya bersebelahan dengan Masjid Agung Banten dan berdampingan dengan Istana Surosowan selaku istana Sultan Banten saat masih bertahta. Kami menyusuri lorong-lorong museum ditemani guide dan para petugas museum. Namun sekali sayang….. ketidakterawatan dan ‘lusuhnya’ museum ini terlihat sangat kontras dengan promosi yang menyebar di kalangan para traveler, terutama setelah melihat brosur dan situs web milik pemerintah Banten yang menjelaskan sejarah Banten yang tersimpan di museum ini. Hati ini menjadi miris…. sedih…. dan sekaligus kesal.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan wisata Anyer. Sepanjang perjalanan kami menikmati panorama layaknya turis… padahal cuma pendamping Wagub saja… hehehe. Namun dalam perjalanan sedikit terusik, karena kami melewati jalur jalan baru di Kota Cilegon. Ya, kami melewati jalur Lingkar Selatan yang baru diresmikan beberapa minggu lalu sebelum Pak SBY melewatinya saat akan meresmikan PLTU di Labuan. Sangat kontras sekali. Jalan raya lingkar selatan ini baru diresmikan tapi sudah hancur dibeberapa ruas jalannya… weleh-weleh…..

Setibanya di Anyer kami sempatkan mampir di Pohon Jambu Anyer…. Hehehe, tapi sayangnya belum ada atau tidak ada guide yang bisa menjelaskan secara sederhana apalagi detail cerita tentang Pohon Jambu Anyer yang katanya hanya tumbuh di Anyer, tapi sekrang sedang dikembang biakkan di beberapa daerah lain… hehehe, Jambu aneh bin ajaib…. Mercusuar yang tinggi menjulang sudah memanggil kami, karena letaknya yang diseberang pohon jambu Anyer…. langsung saja kami menyeberang.

Saya sudah beberapa kali menginjakkan kaki di Mercusuar Anyer… karena memang memiliki nilai historis yang kental dengan Krakatau dan kisah Anyer-Panarukan… namun ada yang tidak berubah dari mercusuar ini….. maaf ‘bau pesing’ disekitarnya dan juga didalam mercusuar sangat tidak nyaman… huff. Padahal view dari atas mercusuar dan lambaian daun kelapa sangat memikat hati untuk terus dan terus memanggil untuk berkunjung kembali….

Kami rehat dan berdiskusi kecil bersama Pak Wagub dan teman-teman PHRI dan ASITA di Hotel Mambruk…. Beragam topik muncul dan menjadi bahasan saat rehat. Kelapa muda dan gorengan yang disajikan oleh tuan rumah sangat memikat lidah namun mendengar cerita teman-teman hotel tentang puasa senin-kamis karena minimnya tamu yang menginap saat weekday membuat hati miris …. Apalagi pemilik modalnya ya..??? tak heran, beberapa hotel dan losmen memilih gulung tikar karena ‘digulung aspal’ yang tidak pernah mulus menuju lokasi wisata… banyak komplain yang muncul namun seperti teori ‘masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan’… jalan wisata yang menjadi wisata off road jika hari hujan… huhuy…

Makan siang, kami dijamu oleh Pondok Layung yang memiliki arena Outdoor Training Centre… masih baru memang, dan kami disajikan Nasi Bakar dan Bir Kampung… hehehe, asli dan halal katanya…. Namun jumlah tamu dan tingkat okupansinya hanya ramai dikala musim liburan dan weekend saja… sabar.. sabar… sabar… Ternyata tingkat hunian di hari biasa adalah pendemi yang sudah menjadi tradisi di kawasan Anyer-Carita. Rekan saya, Ashok Kumar selaku ketua PHRI Kab. Serang mengatakan, bagaimana mau menarik turis datang ke Anyer kalau infrastruktur tidak dibenahi….??????

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Karang Bolong…. Cihuy… cihuy… kami disambut oleh sampah yang menumpuk disudut-sudut areal parkir mobil yang terletak di seberang jalan dari pintu masuk Karang Bolong. Dan ternyata hari itu tidak ada seorangpun wisatawan yang datang… bukan karena akan datang rombongan wagub, namun menurut pengakuan Pak Soleh salah seorang pemilik warung oleh-oleh di daerah itu, kawasan ini hanya ramai di hari libur saja…. asyikkkkkk

Sore harinya kami mengunjungi Kawasan Mega Diversity di kawasan Carita. Udaranya sangat sejuk walaupun berada di tepi pantai Carita…. Rimbunnya pohon di sela-sela suara burung membuat hati damai dan tenang …. Setenang wisma yang katanya selalu sepi dari kunjungan wisatawan… kasihan… lapangan tenis yang tidak terawat, benalu yang ramai bertengger di atap wisma…. dan beragam kisah sedih yang melekat didalam kawasan ini.

Akhir perjalanan kami berkunjung ke Museum Gunung Krakatau di Lippo Carita. Dalam benak saya, mungkin ini adalah obat pelipur lara kami setelah seharian berkunjung ke wilayah yang ‘sangat tidak layak’ dikatakan obyek wisata… karena memang sangat tidak terawat. Nama besar Lippo sudah membayangi mata, pasti museum ini aka menjadi obat……. dan ternyata, Museum Krakatau ini lebih angker… betul-betul angker…. alias sudah tidak terawat. Untuk datang kesitu saja harus melewati rumput yang setinggi lutut…. dan pintunya telah di palang dengan kayu alias sudah tertutup… hiiiiii.

Akhirnya ketika mengetahui rombongan Wagub datang, salah seorang petugas membuka pintu dan terlihatlah beberapa artefak dari Banten Lama… foto dan lukisan Krakatau, Banten dan Suku Baduy yang tidak terawat… hiks… hiks. Sangat ironis… sampai ketika saya melihat-lihat artefak didalam… dan melihat anak-anak tikus yang masih berwarna merahhhhh…….ahhhhh…… saya langsung keluar…. Jujur binatang ini yang paling saya hindari…. hiiiiii

Cukup sudah…. Cukup sudah….. akhirnya perjalan ‘Sidak’ mendampingi Pak Wagub berakhir sampai disini saja…. saya hanya bisa mengelus dada…. Slogan Visit Banten yang sampai saat ini masih bertengger di pintu Tol Cikupa dengan wajah Ibu Gubernur tersenyum dan mengajak para wisatawan berkunjung ke Banten seperti ‘hambar’ dalam ingatan saya…. Billboard pariwisata Banten yang terpampang di Bandara Soekarno-Hatta seperti bertolak belakang dengan kenyataan yang ada….

Jangan dulu kita membandingkan Pariwisata Banten dengan dengan Singapura, Malaysia atau Thailand….. dengan Bali dan Bunaken saja, kita masih jauuuuuuh….. Tahun Kunjuungan Musem 2010, yang dicanangkan ASITA Banten dalam menarik wisatawan seperti menjadi blunder. Saya jadi ingat syair lagu Sheila Madjid...."Antara Anyer dan Jakarta... jalannya selalu rusaaaak"... piss ya Mbak Sheila... I Luv U Full Banten.

Rabu, 24 Februari 2010

Kasih Ibu Sepanjang Masa…


Malam ini, saya hendak mengunci pintu kantor dan bersiap pulang menuju rumah. Rolling door sudah saya rekatkan serta lampu, komputer dan AC sudah saya matikan semua. Namun ketika gembok hendak saya letakkan pada daun telinga pintu, mata saya tertumbuk pada sesosok tubuh kecil yang tergeletak tertidur pulas di atas lantai keramik di depan pertokoan Islamic Centre Kota Serang tempat kantor saya berada. Disisi bocah itu duduk seorang ibu paruh baya yang sedang asyik membaca sobekan koran dalam keremangan cahaya lampu sambil sesekali tangannya mengibaskan koran tersebut diatas tubuh anaknya yang mungkin terganggu oleh nyamuk dan serangga lainnya.

Udara diluar terasa dingin, karena sore tadi hujan mengguyur Kota Serang menyisakan genangan air dan lantai yang masih basah. Saya membayangkan dinginnya lantai dan aroma lembab yang pasti ditimbulkan dari bekas hujan. Saya mencoba mendekati ibu muda tersebut, sambil berharap kehadiran saya tidak mengganggu konsentrasi dan keseriusannya menjaga sang buah hati yang sedang terlelap.

Saya memulai percakapan dengan menanyakan mengapa anaknya tertidur di atas lantai tanpa alas sehelai kain atau karton yang mungkin bisa sedikit menahan rasa dingin. Ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia sedang mencari sang suami. Pekerjaan sang suami katanya berprofesi sebagai pengamen jalanan, sedangkan ia harus bertemu dengan sang suami malam ini juga karena pemilik rumah tempat tinggalnya saat ini sudah mengharuskannya keluar dari kontrakannya karena sudah dua bulan tidak mampu membayar sewa. Huff…. Saya hanya mampu menahan nafas ini….

Saya membayangkan rasa putus asa menghadapi hidup yang dialami sang Ibu. Namun ketegarannya mampu menahan rasa lelahnya menyusuri jalanan Kota Serang demi mencari pujaan hatinya yang juga mungkin sedang berjibaku ‘menjual’ suaranya sebagai pengamen jalanan.

Sang Ibu menceritakan bahwa anaknya tadi berkata sudah sangat kelelahan berjalan kaki dari rumah kontrakan mereka di daerah Sempu di selatan Kota Serang, dan meminta istirahat sampai akhirnya sang anak tertidur di emperan samping kantor saya…. Hmm, saya merasa berdosa karena tidak memperhatikan apa yang terjadi diluar kantor sampai saya hendak pulang malam ini.

Saya kembali membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa alas di tempat terbuka. Saya pernah tidur di tempat terbuka saat kemping dan naik gunung, namun dengan perlengkapan yang cukup serta jaket anti dingin. Tapi saya masih tidak bisa membayangkan ketika hal ini terjadi pada seorang anak yang ditemani oleh ibunya yang tidak sanggup memberi ‘nilai’ lebih pada buah hatinya karena dikalahkan oleh keadaan.

Saya menawarkan untuk mau menginap di rumah saya, tapi ia menolaknya karena masih ingin mencari suaminya walaupu sampai besok. Huff… saya membayangkan urgensi adanya Trauma Center yang bisa menampung saudara-saudara kita semacam ini… saya membayangkan adanya Baitul Maal yang mampu mengayomi orang miskin dalam situasi terdesak… saya membayangkan pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945 perihal ‘orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’… hihihi… saya hanya bisa tersenyum kecut.

Saya sudah tidak ingin membayangkan teman-teman saya yang duduk sebagai anggota dewan yang terhormat di DPR, DPD, serta DPRD ataupun rekan saya yang duduk sebagai pemangku kebijakan di pemerintahan yang setiap perjalanan dinasnya selalu meminta fasilitas hotel bintang 3, 4 dan lima ditambah plus-plus yang lainnya…. tenggorokan saya seperti tercekat.

Saya menatap wajah anak itu dan wajah ibunya yang masih terlihat buliran keringat mengalir di wajahnya. Saya merasa berdosa malam ini karena tidak sempat memberinya apapun, karena saat saya kembali lagi ke lokasi semula dari mengambil sedikit dana di ATM…. si ibu dan anaknya sudah pergi entah kemana….. seperti raibnya rasa keadilan dan rasa sosial di negeri ini. Saya merasa sangat bersalah karena mungkin sudah terlalu banyak bertanya dan tidak memberinya apapun….. malam ini langit begitu kelam dan gelap…. Segelap harapan jutaan rakyat yang berharap adanya perubahan dinegeri ini…. Tapi saya percaya Allah tidak tidur…..

Selasa, 23 Februari 2010

CENTURY DAN ONGKOS POLITIK RAKYAT


Malam ini, pembacaan keputusan hasil Pansus Bank Century di DPR RI seperti menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia. Mang Jaim, penjaga malam di salah satu kantor di Kota Serang saat saya jumpai pagi tadi terus ‘mengoceh’ dengan segala sumpah serapah tentang uang 6.7 Trilyun yang katanya dia sendiri tidak tahu ada berapa angka nol di belakang 6.7 tersebut.

Lain lagi dengan Ucil (dipanggil Ucil karena perawakannya yang kecil seperti anak SD walaupun usianya sudah 19 tahun), loper koran di Pisang Mas yang sehari-hari mengantar koran di kantor. Pagi tadi ia bercerita panjang lebar tentang Bank Century… seperti pengamat politik lainnya (padahal ia hanya tamatan sekolah dasar di Serang). Ia mengutuk tujuh turunan penggunaan dana 6.7 trilyun yang katanya kalau uang itu dibelanjakan untuk beli beras bisa buat stok beberapa tahun di Kota Serang… (katanya semua data ia baca di Koran yang ia jajakan.. hehehe, pinter juga dia).

Saya tidak mau su’udzon atau menuduh kepada orang atau lembaga yang harus bertanggung jawab siapa dan kepada apa uang itu bisa digelontorkan…? Saya jadi ingat masa-masa kampanye 1997, 1999, 2004, 2009 dan beberapa kali pemilihan Gubernur, Bupati serta walikota di Banten yang saya sedikit banyak ikut terlibat didalamnya. Memang tidak ada korelasinya secara langsung dengan uang Bank Century… tapi saya menghitung-hitung ongkos politik dalam roda demokrasi di Indonesia bahkan di dunia.

Saya ingat kasus ‘ongkos politik’ yang terjadi di Amerika yang melibatkan Bos Taipan asal Indonesia yang memiliki kantor pusat di Banten… ya tepatnya di Karawaci Tangerang. Dialah James T. Riyadi pemimpin Group Lippo yang harus menerima putusan kerja sosial selama 400 jam di tahun 2001 dan membayar ganti rugi 8.6 juta USD (setara 86 milyar jika kurs 10.000). James juga harus memakai seragam khusus dengan tulisan ‘bersalah’ di punggungnya dengan cara membersihkan toilet umum, panti jompo dan fasilitas sosial lainnya. Hal ini karena James terbukti memberikan sumbangan illegal terhadap Bill Clinton saat akan menjadi presiden Amerika di tahun 1992 dan tahun 1996.(http://www.gatra.com/2001-01-12/artikel.php?id=2919).... Permasalahan selanjutnya, apakah di Indonesia bisa diterapkan hal serupa..?

Saya membayangkan berapa ongkos politik yang dikeluarkan partai-partai, para caleg, calon gubernur, calon bupati, calon walikota dan calon kepala desa di kampung. Saya ingat cerita rekan saya yang saat ini menjadi kepala desa di beberapa lokasi di Banten. Untuk ukuran kursi kepala desa saja, seseorang tidak sungkan untuk merogoh kocek sampai ratusan juta rupiah…. Weleh-weleh…. Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh, memiliki pengalaman tersendiri. Dia menghabiskan dana lebih dari Rp1 miliar hanya untuk berpidato selama 15 menit di panggung kampanye di sebuah lapangan sepakbola, di Mandailing Natal, Sumatera Utara saat kampanye 2009…. ckckckck. Untuk partai-partai, VIVAnews melaporkan bahwa Partai Gerakan Indonesia Raya tercatat sebagai partai dengan dana kampanye terbesar di Komisi Pemilihan Umum yakni Rp 308 miliar. Partai Hati Nurani Rakyat jauh di bawah jumlah itu yakni Rp 19 miliar, Partai Amanat Nasional Rp 18 miliar dan Partai Kebangkitan Bangsa Rp 3,6 miliar (http://politik.vivanews.com/news/read/63443-inilah_laporan_dana_kampanye_gerindra)

Sedangkan untuk calon presiden dan wakil presiden, saldo awal dana kampanye tiga pasang calon presiden dan wakil presiden diumumkan. Pasangan kandidat dengan saldo awal tertinggi adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono, yang mencapai lebih dari Rp 20 miliar… hehehe, itu baru saldo awal (http://politik.vivanews.com/news/read/61913-dana_kampanye_sby_boediono_tertinggi__rp_20_m)

Saya tidak merasa heran jika banyak pihak menenggarai, bahwa dana talangan Bank Century habis di pakai ‘bancakan’ oleh partai tertentu yang kemdian didistribusikan kepada para peserta partai koalisi… cabe deh… terbukti banyaknya penerima dana dari Bank Century yang fiktif tercatat di bank tersebut.

Lain lagi cerita teman saya yang sedang melakukan penelitian di sebuah Taman Nasional di Kalimantan, yang menceritakan bahwa setiap akan diadakan pemilihan kepala daerah di wilayah tersebut selalu ada alih fungsi hutan dari hutan negara menjadi hutan rakyat yang dapat di konversi menjadi lahan pertanian dan tempat tinggal, padahal itu adalah lahan konservasi… huff, alasannya kandidat dari calon-calon kepala daerah tersebut memberikan konsensus tersebut dengan harapan akan dipilih lagi…. cara lain money politik… hihihi

6.7 Trilyun… saya sudah tidak ada gairah untuk membayangkan berapa nol dibelakangnya…. Saya hanya terbayang wajah-wajah para politikus…. (yang sebagian diantara mereka adalah kawan-kawan saya juga… hihihi). Hampir semua kasus hukum dan kasus politik di negeri ini selalu diungkap setelah ada tuntutan dari masyarakat… itu juga setelah alasan-alasan yang diungkapkan selalu mentah….

Indonesia memang terlalu luas… terlalu banyak permintaan dari rakyat…. terlalu banyak harapan yang ditumpukan pada pemimpin… dan terlalu banyak janji dari para parpol dan para kandidat untuk meningkatkan kesejahteraan… saya teringat sebuah iklan salah satu produk furniture beberapa tahun lalu…. “kalau sudah duduk lupa berdiri”… hehehe, bukan hanya lupa berdiri…. Juga lupa pada konstituennya. Tidak percaya…? Bukalah sedikit memori politik anda…. Seberapa sering dulunya saat kampanye, para parpol dan para kandidat mengunjungi kita semua…? Setelah jadi…? Cukup lihat rakyat yang kurang gizi dari televisi, cukup lihat sekolah roboh dari Koran, dan cukup sekian cerita saya.

Ciaooooo, I Luv U Fullll Indonesia.

Jumat, 19 Februari 2010

Mencari Kerja Halal…


Siang tadi, ketika saya berkeliling kota Serang hingga kawasan Cipocok, mobil yang saya kendarai berpapasan dengan bocah usia belasan yang sedang berkeliling menjajakan dagangannya berupa cobek…. ya cobek, yaitu alat untuk mengulek (menghaluskan) bumbu masakan di dapur, terbuat dari batu kali yang berat. Anak kecil itu memilkul sekitar sepuluh buah cobek berbagai ukuran, masing-masing lima buah di tiap sisi pikulannya.

Sepanjang perjalanan saya tidak habis berpikir, saat jam pelajaran sekolah berlangsung, anak tersebut justeru berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya sekedar menjajakan cobek. Padahal seperti kita ketahui dalam sehari belum tentu barang dagangannya tersebut ada yang membeli. Dengan beban berat di pundaknya, tak nampak sebersit keluh kesah yang terucap di bibirnya.

Saya teringat beberapa minggu lalu saat saya berkunjung ke Baduy Dalam bersama rekan-rekan dari Jakarta. Sepanjang jalan setapak yang kami lalui, ada seorang bocah Baduy Luar yang terus mengikuti kami sambil menawarkan air mineral dalam kemasan. Awalnya guide kami sesama orang Baduy menolak dan menyarankan agar si anak tak usah menawarkan pada rombongan kami, karena dalam group kami, perbekalan air dan makanan sudah lebih dari cukup.

Saya melihat sebuah kardus yang dipikulnya sepanjang jalan dengan terus membuntuti kami, sampai ketika kami melewati Kampung Gazebo di Baduy Luar, si anak ikut beristirahat da kembali menawarkan air mineral yang ia jajakan. Hmm, saya tertarik memulai pembicaraan dan menanyakan berapa botol yang ia bawa hari itu. Dan sambil tersenyum si anak mengatakan bahwa ia membawa dua puluh lima botol air mineral ukuran 500 ml…. woow, kuat sekali bocah ini yang sanggup membawa beban demikian berat dengan kondisi jalan naik turun bukit dan kondisi jalan basah akibat habis di guyur air hujan.

Saya menanyakan berapa harga jual satu botolnya, dan ia menjawab dua ribu lima ratus rupiah. Haaa..? harga tersebut sama dengan dan bahkan lebih murah jika kita membelinya di warung pinggir jalan dengan merek yang sama. Saya menanyakan berapa keuntungan satu botol dari hasil berjualannya. Dan ia kembali menjawab tiap satu botol ia mengambil margin lima ratus rupiah saja…… amazing….

Dan malam ini, ketika saya sempatkan mampir ke kantor untuk satu urusan. Saya kembali berjumpa dengan kawan anak si penjual cobek yang siang tadi saya temui. Ia sedang menunggu teman-temannya di emperan pertokoan Masjid Agung Serang karena mereka janjian bertemu di Masjid ini sekedar melepas lelah melewati malam untuk melanjutkan perniagaannya esok hari.

Saya merasa kelu lidah dan lemas badan melihat perjuangan anak-anak usia belasan tersebut yang sudah harus mencari nafkah dengan beban hidup yang harus mereka jumpai. Kerasnya kehidupan dan cueknya para pemimpin akan realitas yang ada membuat hati kecil ini …. mungkin tertawa.. ya, saya hanya bisa tertawa melihat rekan-rekan di legislatif yang demikian semangat membahas anggaran dan melihat pola tingkah laku rekan-rekan di eksekutif yang ‘semangat’ juga untuk merealisasikan anggaran yang telah di sahkan di legislatif.

Besarnya anggaran pendidikan bagi anak bangsa seolah lenyap seperti bulir-bulir es yang terpanggang di bawah sengatan matahari di kala terik. Mobil yang saya kendarai melewati rumah orang nomer satu di provinsi ini…. dan melewati kantor salah satu partai pendukung calon bupati yang sebentar lagi bertarung…. yang tampak hanya kesan angker dengan pagar tinggi dan penampakan kemewahan di hadapan rakyatnya.

Hanya saja, sayangnya anak penjual cobek itu bukan dilahirkan dari rahim seorang ibu yang kebetulan menjabat sebagai gubernur atau bupati…. Tapi ia terlahir dari seorang rahim ibu warga negara biasa yang tidak memiliki koneksi dan akses kepada pusat pemerintahan…..

Rabu, 17 Februari 2010

Administrasinya…. Up to You


Rekan saya dari Jepang menceritakan pengalaman berurusan dengan birokrasi di Indonesia yang baginya memberikan pengalaman menarik…. dan sangat menarik mungkin bagi kita juga, atau sudah menjadi budaya bagi kita saat mengurus KTP, SIM, KK atau Pasport. Ceritanya berawal ketika beliau akan mengurus izin tinggal sementara di Indonesia atau biasa di singkat KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara) sehubungan dengan tugas belajar dan penelitian di Indonesia.

Semua persyaratan dan dokumen yang dibawanya dari Universitas Kyoto di Jepang sudah semuanya dilengkapi termasuk surat-surat dari Konjen RI di Osaka dan izin penelitian dari LIPI. Semua urusan birokrasi nyaris lengkap dan tinggal mengurus beberapa izin untuk tempat tinggal di lokasinya bermukim.

Mulai dari surat pengantar di kelurahan, kecamatan hingga kelengkapan administrasi di Polres. Namun semua itu serasa hambar karena dalam hal pengurusan di salah satu instansi pemerintah masih harus dilakukan untuk melengkapi satu surat pengantar. Saat menunggu surat pengantar dikeluarkan, serasa sangat lama sekali nyaris membuat hati kesal. Akhirnya beliau menanyakan, kenapa surat pengantarnya tidak kunjung selesai…. “Sebentar mbak, sedang dalam proses”. Dengan sabar ia menunggu dan terus menunggu.

Sampai matanya tertumbuk pada papan pengumuman bahwa pengurusan surat-surat administrasi apapun di kantor tersebut dinyatakan gratis alias tidak usah membayar. Ya memang untuk urusan SOP (standard operation procedure) Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Sama halnya jika kita akan membuat SIM di kepolisian, semua harga yang harus kita bayarkan sudah tertera sangat jelas didinding pengumuman dan biasanya ada plang atau spanduk pengumuman bertuliskan “Jangan Menggunakan Jasa Calo dalam Membuat/Memperpanjang SIM”…. Sangat reformis.

Namun semua slogan itu seperti hiasan dinding semata. Mulai dari tarik menarik saat kita sampai di lokasi (seperti penumpang ditarik dan diajak naik bis saat masuk terminal.. hiiii), hingga tawaran mempermudah pengurusan jika menggunakan ‘orang dalam’ kalau mau cepat mengurus SIM. Dan anehnya yang menawari semua itu adalah orang-orang yang berseragam juga….. slogan tinggal slogan, kenyataannya memang susah untuk menjadikan peraturan berjalan sesuai SOP…. Cabe deh…

Kembali pada cerita kawan saya tersebut, akhirnya ia kesal juga ketika harus mengunggu begitu lama dan ia bertanya kembali pada petugas di kantor pemerintah tersebut…. “Pak, apakah surat saya sudah selesai…?” (tentu dengan bahasa Indonesia yang gado-gado karena memang baru belajar bahasa Indonesia) dan bapak tersebut katanya tersenyum dan mengeluarkan secarik kertas yang disodorkan padanya dan mengatakan…. “Oh iya, sudah selesai silahkan diterima ya… tapi anda harus menyelesaikan biaya administrasi”. Teman saya bingung, karena di pengumuman tertera bahwa pengurusan surat gratis tapi kok harus bayar…? Dan ia kembali bertanya… “berapa biaya administrasinya Pak..?”.. sambil tersenyum-senyum katanya si Bapak menjawab sekenanya… “Administrasinya, up to you”

Tentu saja kawan saya tambah bingung berapa ia harus keluarkan dalam pengertian ‘Up to You’…. Karena tafsir ‘up to you’ begitu luas…. dan akhirnya ia mengeluarkan uang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II tiga lembar berwarna merah yang diserahkan kepada petugas tadi yang katanya langsung dimasukkan kedalam kantong petugas tadi sambil mengucapkan tengkyu… tengkyu… tengkyu… Hmm, I luv U full Indonesia…..

Sekali Lagi Tentang Rasa MALU (Catatan untuk Plagiarisme)


Dua hari ini (15-16 Feb) saya sengaja mengikuti Internasional symposium dengan tema ‘Melihat Hubungan Jepang-Indonesia’ yang diselengarakan oleh Japan Fondation, Program Paska sarjana Kajian Jepang Universitas Indonesia dan CSEAS - Universitas Kyoto bertempat di Universitas Indonesia.

Undangan ini saya dapatkan dari rekan saya di Japan Fondation yang kebetulan juga beberapa pembicara dari Kyoto University adalah kawan dekat yang memang sering berinteraksi untuk beberapa urusan. Semua pemateri baik dari Jepang maupun dari Indonesia yang tampil sangat memukau dan memberikan pencerahan baru dari berbagai topik yang dibahas, mulai ekonomi, sosial, politik hingga topik humaniora yang kadang diluar pemikiran umum seperti kartun dan gaya hidup serta keseharian masyarakat muslim di Jepang dan para pekerja Indonesia disana.

Saya merasa bersyukur karena dapat mengikuti acara ini secara utuh….. dan gratis pula… he he he. Disela-sela symposium, kami para peserta dan beberapa pembicara saling bertukar pikiran dan berdiskusi kecil menyikapi perkembangan internasional, topik nasional hingga gossip lokal menyangkut Banten. Hal ini dikarenakan beberapa peserta yang hadir sebagai peserta adalah rekan ‘seperjuangan’ di Banten…. Kayak tahun 45 aja pake istilah seperjuangan… hehehe.

Satu topik yang menjadi pembicaraan serius yaitu seputar gossip lokal munculnya isu plagiat yang dilakukan oleh salah seorang professor di Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa…… ya, sengaja saya cantumkan Universitas Negeri…. karena dulunya universitas ini adalah universitas swasta yang begitu ‘ngototnya’ mengejar status negeri dalam kesempatan yang bersamaan ketika Provinsi Banten baru lahir. Euforia menyambut lahirnya universitas negeri ini sangat mengharu biru civitas akademika di Banten pada umumnya…. sayapun salah seorang yang menyambut dengan suka cita hadirnya universitas negeri ini, hingga saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswa kelas non regular di salah satu fakultasnya.

Karena latar belakang yang sepi dari dunia kampus, saya mencoba memahami beberapa ‘kasus’ menarik yang bagi saya agak ganjil ketika mengikuti perkuliahan yang selalu sepi dari kehadiran mahasiswa dan berbalik seratus delapan puluh derajat saat akan ujian UAS… he he he (maaf saya terlalu jujur…hihihi). Saya mencoba semakin memahami saat beberapa kawan saya ‘mengadakan’ sidang ujian skripsi di salah satu hotel di kawasan Anyer… hehehe, sekalian liburan kali ya…? Tapi itu dulu, ketika universitas negeri ini baru berdiri.

Saya teringat ketika saya menjalani siding skripsi di fakultas (karena saya tidak bergabung dalam kelompok Anyer, maka jadinya saya ikut ujian di kampus)….. saat itu saya seolah terbanting dari atas tebing ke jurang paling dalam saat mengikuti ujian sidang…. Hal ini dikarenakan salah seorang penguji mengatakan bahwa skripsi saya saya tidak layak dan dianggap terlalu mengawang-awang serta terlalu tinggi untuk ukuran Banten…? Hehehe, tengkyu Pak. (padahal saya ingat ketika salah satu penguji tersebut mengatakan…. Jangan sekali-sekali mengutip tulisan orang lain atau tulisan asing yang tidak bisa dipertanggung jawabkan asal tulisan tersebut…. (padahal saya sudah menyertakan footnote…. sabar… sabar..)

Beberapa tahun kemudian, saat saya mengikuti perkuliahan di Nanyang Technological Universtity di Singapore untuk kelas post graduate, salah seorang dosen senior saat memberikan perkuliahan umum mewanti-wanti agar setiap mahasiswa untuk tidak…. tidak…. dan tidak…. menjadi plagiator dalam hal menyusun paper atau tugas kuliah. Karena pihak universitas NTU memiliki software pelacak plagiat. Mendengar hal ini beberapa rekan saya ‘jiper’…. salah seorang rekan saya menjadi kutu buku dadakan, salah seorang lainnya menjadi anak perpustakaan, dan yang sangat miris adalah salah seorang rekan saya dari utusan militer harus ‘angkat koper’ karena ketatnya sistem pembelajaran dan pembuatan tugas-tugas kuliah yang membuatnya stress duluan.

Hari ini, kami membicarakan kasus dugaan plagiat yang dilakukan oleh salah seorang professor di Universitas Tirtayasa di salah satu pojok kantin Universitas Indonesia. Kami semua menjadi terdiam dan terpaku…. Membayangkan wajah sang professor yang sampai hari kelima dari munculnya aksi gugatan di milis dan facebook seputar aksi plagiat tersebut. Saya membayangkan aksi gentleman seorang professor di Universitas Parahiyangan yang beberapa hari kemarin meminta maaf atas kasus plagiat yang dilakukanya di Koran The Jakarta Post dan pihak redaksi Jakarta Post juga telah mencabut dan meminta maaf atas termuatnya artikel sang professor dari Bandung tersebut yang menurut pihak redaksi sangat memalukan…. Tinggal kini keberanian media massa di Banten dan civitas akademika di Untirta menyikapi hal ini.

Rekan saya di Kyoto University mengomentari kejadian ini dengan membandingkan kejadian serupa yang pernah terjadi di Jepang. Kata beliau, di Jepang pernah terjadi kasus plagiat. Salah seorang pelaku plagiat meminta maaf dan mengundurkan diri dari kampus…. dan salah seorang lagi pelaku plagiat melakukan aksi bunuh diri untuk menutupi rasa malunya. Saya merinding membandingkan aksi professor di Jepang dengan di Banten…. Aksi professor di Parahiyangan selaku ‘pelaku plagiat’ yang meminta maaf minggu kemarin adalah salah satu aksi simpatik…. tidak mencari-cari alasan dengan beribu alasan lain yang dikemukakannya. Karena kebohongan yang dikemukakan untuk menutupi kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lebih besar.

Kiranya para mahasiswa dan masyarakat pembaca koran sudah mahfum…. Teman saya diujung sana berteriak lantang….. Ini Banten Bung!

Sabtu, 13 Februari 2010

Banjir dan Publisitas Pemimpin Kita


Kemarin dalam perjalanan melewati Kota Jakarta, ada yang sedikit aneh ketika melewati beberapa ruas jalan di jalur dalam kota. Biasanya jika hari libur, jalan-jalan di Jakarta tidak akan macet karena aktifitas keramaian menyusut dikarenakan berkurangnya aktifitas perkantoran. Namun kemarin agak sedikit berbeda, bukan karena adanya mobil yang mogok di dalam jalan tol ataupun adanya demonstrasi. Namun kemarin beberapa ruas jalan di tutup, atau lebih tepatnya tertutup oleh aliran ‘air kiriman’ dari Bogor yang biasanya disebut banjir tahunan. Orang-orang media massa selalu menyebutnya ‘banjir kiriman’.

Kok bisa-bisanya media massa menyebutnya banjir kiriman…? Memangnya banjir tersebut dikirim pakai Pos atau DHL…? Sehingga disebut banjir kiriman…? weleh-weleh…. memang tidak salah, karena banjir di beberapa wilayah pemukiman di Jakarta seperti ritual tahunan yang harus ‘pasrah’ diterima oleh warganya bila datang musim penghujan. Kalau yang dikirim adalah duren atau rambutan apalagi dukuh, tentunya akan menyenangkan kita semua. Tapi kalau yang datang setiap tahun adalah banjir…??? Tentu tidaaaaaaaak.

Dengan sigap, ketika informasi dari penjaga pintu air di Bogor mengatakan bahwa air sudah melewati garis normal, maka para pejabat sudah dengan sigapnya berbicara didepan media bahwa bantuan logistik akan segera datang yang akan diantar langsung oleh pejabat tadi….. HEBAT. Sangat hebat untuk sebuah peningkatan citra, tapi tidak untuk masa depan masyarakat yang setiap tahunnya dihantui kiriman banjir dan bukannya bantuan sementara yang hanya bisa ‘meninabobokan’ sekejap saja.

Saya ingat kejadian banjir yang juga selalu menerjang wilayah Banten Selatan, tepatnya di kawasan Patia dan sekitarnya di Kabupaten Pandeglang. Setiap tahunnya wilayah ini juga selalu mendapat banjir kiriman dari hulu sungai di kawawsan perbukitan.

Hampir semua pejabat dari tingkat Gubernur, Bupati, anggota DPRD, Partai politik, Camat dan kepala Desa dibuat sibuk. Pada hari-H saat banjir datang semua pihak berubah bentuk menjadi ‘sinterklas’ yang dengan keramahan hati mendistribusikan bantuan langsung kepada masyarakat sekitar Patia yang diterjang banjir. Sangat bagus memang dan sangat tepat, walaupun program ‘sunat’ bantuan sudah menjadi rahasia umum.

Ritual tahunan banjir dan pemberian bantuan seperti menjadi kebiasaan yang setiap tahun harus dijalani. Beberapa pejabat hanya enteng mengatakan bahwa kejadian banjir di wilayah-wilayah tersebut merupakan kejadian biasa setiap tahunnya, ketika pejabat tersebut menyikapi dimuatnya foto banjir di Patia Pandeglang tahun yang lalu dimuat di salah satu media massa luar negeri…. Ha ha ha, saya jadi tertawa mendengarnya. Ada alasan lebih konyol dari beberapa pengurus partai politik yang mengatakan bahwa pemberian bantuan ke masyarakat tersebut tidak perlu lagi dilakukan, karena dengan pengalaman mereka, katanya bantuan diterima oleh masyarakat, tapi saat pencoblosan pemilu suara mereka selalu jeblok…. Weleh-weleh… katanya kalau nyumbang harus ikhlas.. ? piye’ toh mas..?

Yang menjadi pertanyaan, apakah memang masyarakat harus ‘pasrah’ menerima keadaan lokasinya menjadi wilayah banjir setiap tahunnya..? Saya jadi terbayang bagaimana Belanda dapat membangun tanggul yang begitu kokohnya untuk menahan laju air yang berada lebih tinggi dari daratannya (walau katanya dana pembangunan tanggul tersebut berasal dari nusantara). Saya juga teringat pembangunan kanal timur di Jakarta yang sampai saat ini menjadi ‘rebutan’ politik dengan beragam alasan.

Banjir di negeri ini menjadi sangat menarik untuk dikaji, disoroti, dinikmati dan dijadikan komoditas pembicaraan dalam parlemen. Anggaran setiap tahun selalu disediakan untuk penanggulangan banjir dan bantuan untuk korban banjir, namun yang disayangkan selalu menguap entah ditelan siapa.

Menjadi lelucon publik tentunya, kalau Pemerintah Provinsi Banten sanggup membiayai peningkatan tinggi ruas jalan di sekitar lampu merah Palima dengan alasan banjir…. dan lupa akan membuat tanggul di Patia yang dalam kenyataannya lebih urgen. Semoga saudara-saudara kita di lokasi-lokasi banjir dapat nyenyak tidur tanpa dihantui rasa takut akan datangnya banjir saat lelap dalam tidurnya…. Minimal dapat bermimpi saat lelapnya kalau-kalau para pemimpinnya masih memperhatikan nasib rakyatnya… amiiin.